RAHASIA SANG KHALIQ Oleh Veri Budi Setyawan

 

Di sebuah desa pinggiran yang berada di Kota Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Bantul ada sebuh dusun yang bernama Jembangan. Di sana adalah awal aku tumbuh menjadi seperti saat ini. Aku tidak menyangka sekarang ini berada di Kota Sidoarjo yang tak pernah diimpikan sama sekali untuk bekerja atau mengadu nasib di sini. Ini adalah kehendak Allah yang tidak ada seorang pun yang tahu ke depan itu akan seperti apa.

                Aku teringat dengan sebuah firman Allah yang berbunyi وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki.” (QS. An Nahl: 71).

Merujuk dari ayat-ayat di atas maka jelas sekali bahwa rizki dari Allah Ta’ala sudah ditetapkan, namun demikian manusia memiliki usaha untuk menjemput rizki tersebut. Semakin dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjemput rizki tersebut maka ia akan mendapatkan apa yang dia usahakan. Sehingga, jika ada orang yang mengatakan bahwa rizki itu sudah ditentukan, jadi kita tidak perlu usaha maka perkataan ini tidak tepat. Karena perintah untuk berikhtiar sendiri sangat jelas, seperti dalam firmaNya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. QS. Al-Mulk:15.

                Aku akan ceritakan sebuah pengalaman yang kurang lebih mengimplementasikan dari ayat-ayat Allah di atas. Aku akan mulai cerita ini dari masih semasa kuliah.

Sebelum sampai ke Sidoarjo, aku adalah seorang Mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Kegiatan sehari-hari sebagai mahasiswa tak menghalangi untuk tetap ikut bebagai organisasi di kampus. Mulai dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), ikut menjadi wartawan media kampus, dan organisasi sepak bola. Selain itu, juga bekerja samping di salah satu tempat bimbingan belajar terkemuka di Yogyakarta. Aku juga merintis peternakan ayam kampung di rumah, niatku sih untuk tambahan-tambahan keuangan jika nanti bisa berhasil.

 

Malam Penuh Keharmonisan

                Sepeti biasa hal yang paling menyenangkanku itu ketika bisa berkumpul dan bercengkarama dengan ayah dan ibu. Kami menonton televisi di ruang keluarga. Sambil menikmati secangkir kopi yang dibuatkan ibu, ayah bertanya kepadaku,”Ver… gimana kuliahmu?” kalau ditanya itu, aku seneng bisa bercerita banyak dengan ibu dan bapak. “Kuliahku baik yah, semuanya lancar. Tetapi, memang banyak kegiatanku saat ini,” jawabku. Ayah memberikan banyak wejangan kepadaku, sampai-sampai yang paling saya ingat itu, “Le sekolah duwur kui ora tujuane kanggo kerjo, nanging golek ilmu sing bermanfaat.” Dari, yang disampaikan ayah, aku selalu berikir bagaimana caranya agar bisa setiap kuliah mendapatkan keberkahan ilmu dari para dosenku, mulai dari tidak terlambat masuk kelas,  mengerjakan tugas, dan tawadhuk. Aku juga berpikir yang penting pintar dulu, pekerjaan akan datang dengan sendirinya jika kita pintar.

                Selain itu, ibu juga berpesan kepadaku, bahwa nanti jika sudah berkeluarga, ibu dan bapak akan ikut denganku. Meminta aku yang merawat mereka berdua.  Maklum, aku adalah anak ragil , anak yang diharap-harapkan bisa menemani sampai akhir hayat. Mendengar yang disampaiakan ibu, aku sangat sedih dan meneteskan air mata. “Kenapa kamu Ver?” tanya ibu. “Tidak apa-apa bu, aku hanya sedih saja jika nanti sewaktu-waktu ditinggal ibu dan bapak,” jawabku. Ayah pun mencoba menenangkanku dan memelukku.

                Air mata semakin lama menetes dengan deras. Keluarga tersebut hanyut dalam sebuah harmonisasi malam yang begitu indah dan syahdu. Elusan tangan yang mulai keriput menyentuh rambut, seolah-olah aku masih anak bayi yang baru lahir. Dalam benakku berpikir, aku akan tetap di Yogyakarta, bekerja di sini dan membangun mahligai rumah tangga. Aku akan temani orang tuaku dan merawat mereka.

Singkat cerita, aku pun lulus kuliah dan berhasil mendapatkan nilai cumloud. Tak menyangka, namun inilah kebesaran Allah. Ayah dan Ibu duduk di depan saat wisuda. Aku dipanggil sebagai mahasiswa dengan prestasi cumloud. Alhamdulillah bisa sedikit memberikan senyuman untuk ibu dan ayah. Terlihat binar-binar matanya saat tali toga yang pada awalnya ditaruh di samping kepala sebelah kiri dan oleh rektor dipindahkan ke bagian kanan. Tali toga pada sebelah kiri artinya selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakannya adalah otak kiri. Bisa diartikan agar setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kirinya, melainkan harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Serta, toga sendiri merupakan simbol bahwa mahasiswa sudah dianggap lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat.

Setelah menyelesaikan kuliah, aku diterima di SDN Jejeran, Bantul, Yogyakarta. Aku menjadi wali kelas 5 dan mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Awal-awal masih canggung menjadi seorang guru, karena masih muda sudah dipanggil oleh murid-murid dengan sapaan Pak Veri. Aku pun harus segera menyesuaikan kehidupan menjadi seorang teladhan untuk semua orang. Tidak butuh waktu lama akau beradaptasi dengan lingkungan di sekolah tersebut, karena aku sudah memiliki figur seorang teladan yang sangat aku banggakan, yaitu Ayah dan Ibu. Mereka mengajariku bagaimana bertindak, bertutur kata, dan memberikan keramahan kepada siapa pun. Maklum ibuku juga seorang guru, hehehe

Di tengah kesibukan menjadi seorang guru, aku juga menjadi seorang pengusaha muda. Usaha ayam yang aku rintis sejak awal kuliah masih bertahan. Bahkan tambah besar usahaku, pelanggan banyak serta permintaan pun semakin tidak bisa terpenuhi. Sekitar 500 – 1000 ekor ayam, aku pelihara waktu itu. Aku bertekad dengan sekuat tenaga harus mampu untuk mengembangkan usaha ayam ini sampai sukses.

Selain beternak ayam, aku juga menjadi kader vaksinasi ayam seluruh Kecamatan Pleret. Jika ada peternak ingin ayamnya divaksin, maka pihak puskeswan pasti menghubungiku untuk menanganinya. Bahkan pernah aku memvaksin sampai 1000 ayam dalam semalam. Bukan rasa capek yang aku dapat, tetapi rasa senang ketika bisa membantu para peternak. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tetapi persaudaraan antarpeternak itu yang selalu aku utamakan.

Di tengah kesibukanku, aku mulai berpikir ingin menikah. Aku sudah berumur 24 tahun, sedangkan cita-cita menikah dari awal pada umur 25 tahun. Nabi Muhammad menikah pada umur 25 tahun dengan Khadijah. Harapanku bisa menikah seperti umurnya Nabi Muhammad. “Lalu siapa pasanganku?” tanyaku dalam hati. Pacar saja tidak punya, tetapi aku yakin Allah akan berikan kemudahan bagi yang berniat baik.

Pesan  Ayah dan Ibu.

Matahari tampak jelas makin menjauhi diriku yang saat itu berada di luar rumah, setiap menit makin dan makin menjauh dari pelupuk mata. Tampak sinar jingga cerah bersinar membuat langit berwarna merah jingga, di langit Kota Bantul. Aku melihat ayah dan ibu duduk berdua dengan romantisanya. Tersaji di meja roti sumbu yang enak buatan ibu, dipadu dengan teh anget yang istilah Jawanya “nasgithel” membuat terasa semakin nikmat. Aku mencoba memberanikan diri untuk bilang kepada kedua Ayah dan Ibu perihal keinginan menikah.

“Yah Bu… aku mau ngomong sesuatu boleh?” tanyaku.

“Boleh le, kesinilah, mendekat sini di samping ayah!” sahut Ayah dengan nada yang ramah.

“Gini lho Yah, aku ingin menikah,” kataku.

“Mau nikah dengan siapa kamu Ver?” sahut Ibu.

“Aku kan kenal sama Dini, itu lho anaknya Bapak Suko RT 06. Aku sering ketemu di Karang Taruna Puspa Bhakti. Nah, aku itu seneng dengan dia. Kapan hari aku ngomong sama Dini, perihal perasaanku. Sama Dini, aku disuruh ngomong langsung sama orang tuanya,” jawabku ke Ibu dengan malu-malu.

“Gimana Bu… Pak… sebaiknya?” tanyaku dengan lirih.

“Lha kalau sudah sama-sama seneng, yo gak apa-apa nanti bapak ke sana menemui bapaknya,” jawab bapak.

Banyak sekali yang disampaikan oleh Ayah dan Ibu berkaitan dengan menikah. Perkataan yang paling aku ingat adalah “Nikah itu tidak hanya sebentar, tetapi seumur hidup. Mantapkan benar hatimu dan disiapkan semuanya.” Ayah juga berpesan,“Rizki itu datangnya dari Allah, menikah itu akan mendatangkan rizki. Tidak apa-apa saat ini belum matang rizkimu, insyallah nanti setelah menikah, kamu akan mendapatkan rizki yang semakin besar.” Mendengar pesan-pesan yang disampikan dari Ayah dan Ibu, aku semakin bersemangat untuk segera memantaskan diri dan menikah.

Hari Kebahagiaan

Pagi hari di Bantul. Seperti biasa, pagi ini indah. Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktivitas di pagi itu. Aku dari semalam tidak bisa tidur , karena merasa deg-degan untuk mengucapkan akad nikah. Semua orang di rumahku sudah  mempersiapkan segala macam yang akan dibawa untuk menemui sang pujaan hati. Aku pun juga bersiap diri, seperti baju sudah rapi, sepatu, dasi, dan peci, yang paling penting tidak gerogi saat mengucapkan akad nikah.

Aku pun mulai melangkahkan kaki menuju pengantin putri. Farina Dini Sukawati yang nanti akan menjadi permaisuriku. Ia akan menjadi Ibu dari anak-anakku kelak. Aku bertekad akan terus berusaha membahagiakannya, terutama tidak mengecewakan ibu dan bapaknya. Rumah kami sangat berdekatan, oleh karena itu, kami hanya jalan kaki menuju rumahnya. Simpel dan tidak banyak memakan biaya pernikahan.

Pernikahan pun sudah dilangsungkan dengan lancar. Lega rasanya bisa melewati detik-detik yang menegangkan. Aku bahagia bisa mengucapkan akad nikah dan sudah menjadi pasangan suami isteri. Akhirnya tercapailah sudah keinginanku menikah pada usia 25 tahun.

Antara senang dan sedih

Dua bulan setelah menikah, aku mendapatkan kabar dari isteri, bahwa ia keterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Sidoarjo. Rasa senangnya bisa melihat kebahagiaan pasanganku mejadi seorang PNS. Menjadi PNS adalah cita-cita mungkin sebagian banyak orang. Apa lagi rasa bangga kedua orang tua dan mertuaku mendengarnya. Ini yang mungkin diceritakan oleh Ayah, bahwa rizki yang besar itu akan datang setelah nikah. Syukur Alhamdulillah rasanya .

Tetapi, aku pun sedih dengan kabar tersebut. Itu atrinya aku akan berpisah dengan kedua orang tua. Padahal dari awal aku berniat akan merawatnya samapai akhir hayat.

“Mas… kenapa kok melamun?” tanya Dini.

“Gak kok dik, aku hanya memikirkan orang tuaku. Nanti kan gak mungkin aku tinggalkan kamu sendirian di Sidoarjo. Pastinya aku menemani kamu di sana,” jawabku.

“Lantas, gimana mas baiknya?”tanya isteriku.

“Nanti, aku temani kamu, risign dari SDN Jejeran, dan menjual semua aset peternakan kita. Tidak mungkin, ibu bapak yang mengurus, karena ayamnya sangat banyak. Nanti Ibu bapak bisa kewalahan mengurusinya,” jawabku.

Akhirnya, aku dan Dini berangkat ke Sidoarjo.

Komentar

Postingan Populer