Jejak Langah Pembisnis Muda
1. Bisnis Ayam Bangkok
2. Pengalaman:
Waktu itu saya
adalah seorang mahasiswa semester 1 di Perguruan Tinggi Swasta Yogyakarta. Secara
jurusan dan bisnis yang saya geluti waktu itu tidaklah match sama sekali. Saya berkuliah jurusan Pendidikan Bahasa
Indonesia dan Jawa, sedangkan bisnis yang saya geluti adalah berternak ayam
bangkok. Jelas bukan yang namanya kuliah di fakultas pendidikan pastinya nanti
akan menjadi seorang guru, bukan seorang peternak, atau mungkin pengusaha
sukses. Nah, maka dari itu saya inggin menggabungkan kelak bisa menjadi seorang
guru
hebat yang mempunyai bisnis peternakan sukses.
Awalnya saya
hanya memelihara 2 pasang ayam bangkok. Kemudian lambat laun berkembang biak.
Anakan-anakan ayam (kuthuk) saya
besarkan dengan cara sistem pisah induk (sapih).
Dengan begitu, indukan bisa bertelur kembali dengan selang 2-3 pekan. Tidak
disangka dengan sistem tersebut sangatlah cepat induk ayam memproduksi kuthuk. Awal-awal kuthuk itu saya besarkan semuannya menjadi induk ayam bangkok.
Hanya indukan yang berkualitas saja yang akan saya kembangbiakan kembali,
lainnya saya akan jual dengan sistem kiloan.
Saya tidak akan bercerita teknis lengkap bagaimana
saya berternaknya ya guys… karena
bisa sehari semalam kalian baca tulisan gue…
hehehe
Ayam jenis
bangkok ini pada dasarnya adalah ayam yang dipakai untuk sabung ayam. Harga
jual ayam saya pun waktu itu sudah cukup mahal sekitar Rp 300.000,00 sampai Rp
500.000,00 bahkan lebih kalau kualitasnya memang sangat bagus dengan umur
sekitar 7 bulan. Pelanggan saya kebanyakan dari kalangan penghobi sabung ayam.
Apakah semua ayam bisa terjual dengan harga segitu? Tidak lah, karena harga
segitu yang jelas sudah ayam bagus dan istimewa. Kemudian ayam yang kurang
berkualitas bagaimana? Saya jual dengan sistem kiloan. Ternyata harga kiloan
pun relatif mahal, 1 kg-nya bisa 40-50 ribu, apalagi kalau Lebaran Idul Fitri
bisa jadi 60 ribu perkilo gram.
Semakin lama
ayam yang saya pelihara mencapai 500 – 1000 ekor dengan kurun waktu 3-6 tahun.
Kandangnya pun semakin diperluas, untung saja tanah milik sendiri jadi tidak
ada biaya sewa lahan. Saya pun terus mengembangkan usaha peternakan ayam.
Bahkan waktu itu, saya juga sudah mencoba cara kawin suntik ayam. Jadi, saya mengambil sperma ayam jantan
kemudian disuntikkan ke betina. Alhamdulillah sistem tersebut berhasil membantu
perkembangbiakan ayam. Banyak juga kemudian teman dan para penghobi ayam datang
ke rumah saya untuk belajar cara beternak ayam.
Selain saya
berternak ayam bangkok, saya juga ditunjuk oleh puskeswan untuk menjadi Kader
Vaksinator di kecamatan. Saya diminta untuk menyuntikkan vaksin di berbagai
peternakan ayam setempat. Biaya perayam yang disuntik vaksin Rp. 500,00 tinggal
dikalikan saja berapa ekor saya menyuntik ayam di peternakan tersebut. Lumayan juga
waktu itu penghasilan saya lewat membantu puskeswan.
Akhir dari bisnis saya kemudian berhenti, karena istri diterima menjadi seorang abdi negara di Sidoarjo. Maka dari itu, saya kemudian memutuskan untuk menjual semua ayam dan beberapa kandang. Kemuadian, saya menemani istri bekerja di Sidoarjo sampai sekarang. Harapan mendatang, jika ada kesempatan yang diberikan oleh Allah, saya akan kembali mencoba beternak ayam. Semoga bisa…!!!
3. Quotes
“Bisnis itu dimualai
dari kecil menjadi besar. Jadi tekunlah dan berani mencoba” Veri Budi Setyawan
Komentar
Posting Komentar