Guru, Pahlawan Bangsa

        
          

          Suara ketikan keyboad komputer dan sinar biru dari layar yang bertuliskan guru di kolom pencarian memenuhi pancaindraku. Aroma pengap dari lab. komputer, bibir kering dehidrasi. Pilu hatiku, coba lihat apa yang ditunjukkan oleh perangkat lunak mesin pencarian ini: Hubungan badan siswi SMA dengan guru honorer, pelajar minum anggur selama kelas berlangsung, guru terlibat kasus pencabulan terhadap siswa, berita tentang kekurangan guru sehingga guru yang pensiun diharapkan terus mengabdi kepada sekolah. Banyak berita negatif tentang guru dalam penelusuranku ini, meskipun ada beberapa berita baik nan positif, tapi tetap saja berita negatif tentang guru sangat menyayat hati siapapun yang membacanya.
       Apa tugas dari seorang guru? Tugas seorang guru adalah memberi ilmu, menasehati dan membimbing muridnya. Tapi apa yang terpampang di hasil penelusuranku ini berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang guru. Guru adalah seorang pengajar ilmu, bertugas mendidik, membimbing, mengarahkan, menilai serta mengevaluasi para murid. Tugas guru adalah menjauhkan anak muda Indonesia dari kebodohan, kesenonohan, dan mengajarkan etika yang baik. Guru itu dicontoh oleh muridnya, guru yang baik akan memiliki murid yang baik, sedangkan guru yang buruk akan memiliki murid yang buruk pula. Pengalaman-pengalaman seorang yang didapat akan membentuk pribadinya nanti di masa depan. Bukan masalah coretan spidol di papan dan lembaran soal yang dipermasalahkan. Etika seorang guru, perilaku-perilakunya, moral-moral yang dianutnya-lah yang akan membentuk murid yang baik, anak bangsa Indonesia yang baik. Rakyat yang baik akan membentuk negara yang baik. Kebodohan akan membawa negara ke arah kebobrokkan, tanah yang susah payah dibebaskan oleh pahlawan sekarang ada ditangan generasi masa kini. Apakah generasi ini tidak malu kalau-kalau para pahlawan menyaksikan tanah yang penuh tumpah darah, keringat, dan air mata sekarang dipenuhi oleh orang-orang tak bermoral yang membawa pada kebobrokan. Ironis. Sangat ironis. Di masa bangsa-bangsa lain sedang menuju arah kejayaan yang menjanjikan,  kita justru malah diam tak berkutik berfantasi tentang bagaimana jika Indonesia kelak menjadi seperti mereka. Kita banyak ucap tapi minim pergerakan. Sekolah tersebar dimana-mana, tapi guru minim pasokan. Dalam pembelajaran, bukan sebuah bangunan yang bernama sekolah yang dibutuhkan—bangunan itu memang dibutuhkan sebagai sarana pembelajaran, tapi yang terpenting bukan itu. Takkan ada ilmu jika tak ada sumber ilmu, artinya sekarang Indonesia sedang gawat guru. Seperti berita yang tadi muncul di penelusuran; karena minimnya guru, guru yang sudah pensiun diharapkan untuk mengajar kembali.

            Dari tadi masalah soal etika guru, sekarang soal masalah kualitas seorang guru. Suatu hari saya mendengar suatu cerita dari seseorang, ia bercerita bahwa ada orang yang mencari sepuluh anak paling bodoh di Indonesia untuk dijadikan murid didik. Orang-orang terheran-heran apa yang kiranya sedang direncanakan orang ini. Setelah orang itu berhasil mendapatkan sepuluh anak paling bodoh di Indonesia dan mengajarnya selama beberapa bulan, ajaibnya ada salah satu anak didik dari orang itu yang memenangkan juara lomba fisika se-Indonesia, dan lagi anak itu  dipilih untuk menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang lomba fisika Internasional. Bukan hanya anak itu saja, anak-anak lainnya yang awalnya merupakan sepuluh anak paling bodoh se-Indonesia sekarang menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Dari cerita ini, kita mendapatkan bahwa bukan anaknya yang bodoh, tapi metode pembelajarannya yang jelek berserta kualitas gurunya kurang memungkinkan.

         Guru harus menjadi ahli pada bidang yang diajarnya, tugasnya memang mengajar, tapi bukan asal mengajar. Biasanya, guru selalu menjelaskan tentang dasar-dasar suatu materi, tapi kurang menjelajahinya hingga pokok yang paling detail. Murid-murid belajar tentang penerapan pancasila pada kehidupan bermasyarakat, tapi mereka tidak menerapkannya, hanya belajar. Murid-murid belajar tentang tekanan, tapi tak tahu untuk apa tekanan harus dipelajari, mereka menghitung tekanan pada bendungan, tapi hanya bendunganlah yang mungkin mereka ketahui untuk menerapkan prinsip tekanan hidrostatis. Mereka kurang tahu bahwa infus juga merupakan contoh penerapan dari tekanan hidrostatis. Mereka hanya mengajarkan materi, bukan praktek. Praktek ini bahkan hanya terdapat pada jenjang yang lebih tinggi, semisal SMK dan/atau Universitas, dan itupun hanya pada bidang yang dipilihnya. Konsep pendidikan di Indonesia hanya menerapkan pemerataan materi yang disampaikan, tapi kurang mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki peserta didik. Ada siswa yang berpotensi menjadi seorang pujangga, tapi sekolah tidak memfasilitasinya dengan lomba-lomba dan ekstrakulikuler yang memadai. Pelajaran di sekolah pun hanya dasarnya. Meski konsep pembelajarannya seperti itu, guru masih dapat menerangkan dengan detail kepada murid, dan jika bertanya bagaimana, maka jawabannya adalah guru itu harus kreatif dalam menerangkan materi di depan kelas. Jangan hanya menerangkan apa yang diterangkan oleh buku, terangkan juga hal-hal yang tak diterangkan oleh buku. Dunia itu luas dan besar, begitupun ilmunya. Dan luasnya ilmu itu tidak dibatasi oleh buku paket pelajaran seratus halaman.

   Memiliki siswa yang penuh akan rasa keingintahuan itu bagus, tak perlu malu jika mereka bertanya tentang hal-hal yang tak kau maupun guru lain ketahui. Tak usah sungkan atau pun merasa rendah diri, carilah jawaban itu bersama dan pelajarilah. Murid itu belajar dari gurunya, dan guru juga belajar dari muridnya. Hubungan simbiosis mutualisme antarmanusia. Jika hal itu menguntungkanmu, kenapa harus minder? Jangan taruh harga dirimu di barisan paling depan, jika itu berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan informasi, rasa ingin tahulah yang harus diletakkan di barisan paling depan.

              Mari kita ambil contoh Bapak optik Islam, Ibnu Al-Haitam. Beliau pernah dilempar masuk ke dalam jeruji besi, harga dirinya turun. Tapi, dibalik jeruji besi itulah ilmu tentang optik lahir. Ibnu al-Haitam menghabiskan masa-masa tahanannya dengan mencoba memuaskan rasa ingin tahunya, dan dari rasa ingin tahu yang menggebu-gebu itulah ilmu besar tentang optik lahir. Dan jangan lupakan bapak presiden pertama kita, Bung Karno. Beliau juga menghabiskan masa-masa tahanannya dan pengasingan dengan menuntut ilmu. Beliau belajar dan berpikir bagaimana cara membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Pada akhirnya, beliau berhasil memerdekakan Indonesia dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Harga diri mereka jatuh, tapi dengan kesungguhan dan mengesampingkan harga diri dan mendahulukan rasa ingin tahu, mereka akhirnya berhasil. Ibnu al-Haitam beserta ilmunya yang terus mengalir memberikan manfaat kepada dunia, dan Pak Soekarno yang berhasil memerdekakan Indonesia dan memberi kebebasan yang dapat kita rasakan dan nikmati saat ini.

        Bung Karno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Kita semua pernah mendengarnya, sering bahkan. Tapi, apa kita paham benar dengan ucapan Bung Karno ini? Sepuluh pemuda yang akan mengguncang dunia, pastilah sepuluh pemuda itu bukan pemuda biasa dan asal-asalan. Mereka yang mampu mengguncang dunia adalah para pemuda-pemudi yang memiliki kualitas dan visi besar menatap dunia. Indonesia juga punya pemuda-pemuda yang berhasil mengguncang dan membelalakkan dunia. Contohnya Joe Taslim yang berhasil di film Fast and Furious. Bagaimana caranya menjadi pemuda/pemudi yang mampu mengguncang dunia?

            Pertama-tama, temukan bakat dan potensi yang kamu miliki. Boleh kamu mencoba main piano, harmonika, biola dan lain-lainnya. Dan jangan hanya terpaku pada satu bidang saja, misal kamu mencari bakat dan potensimu dengan mencoba memainkan beragam alat musik, tapi tidak mencoba lainnya seperti fisika, kimia, matematika, olahraga, bahasa dan sastra, geologi, dan lain-lain maka sampai kamu beruban pun bakat itu tak kunjung ditemukan. Jika bakat dan potensi telah ditemukan, maka langkah kedua adalah mencari mentor atau guru yang ahli dalam bidang itu. Jangan jadikan guru olahraga untuk mengajarimu sastra kecuali beliau merupakan sarjana jurusan sastra atau mungkin beliau merupakan seorang pujangga atau penulis. Sekali lagi, carilah guru yang baik. Yang baik ilmunya, yang baik etika dan moralnya dan baik pribadinya. Kesesuaian belajar dan mengajar antara guru dan murid harus tepat. Gurunya mengajar dengan cara auditori alias menjelaskan panjang lebar tapi ternyata muridnya tipe kinestetik. Ini kembali pada kualitas seorang guru dalam menerangkan materi, jika guru tak bersungguh-sungguh dalam mengajar dan hanya asal menerangkan, siapa tahu salah satu dari muridnya kelak akan menjadi penemu obat penyembuh kanker. Andai saja guru itu menjelaskan dengan sungguh-sungguh dan merespon tiap pertanyaan dari muridnya dengan baik, mungkin para jenius yang tertidur itu akan bangun dan mengguncangkan dunia dengan karya-karyanya. Mendidik seseorang itu tak boleh asal-asalan, tugas mendidik itu tugas terberat yang pernah diberikan Tuhan kepada manusia, karena dari tiap aksi didikmu, akan lahir pribadi-pribadi yang nantinya akan menjadi pejuang NKRI.
          Guru, sebuah profesi yang sering dipandang sebelah mata. Mereka tak mengetahui bagaimana kemampuan dari tiap guru ini akan berakibat pada dunia. Jika saja semua guru di setiap zaman dan tempat mengajari muridnya dengan asal-asalan, lalu salah satu muridnya juga mengajari muridnya dengan asal-asalan dan seterusnya sampai masa ini. Kira-kira apa yang akan terjadi? Utopia macam apa yang akan melanda seluruh dunia pada masa-masa itu, masa kini, dan apa yang akan terjadi di masa depan jika hal itu terus berlaku?
      Jangan pernah meremehkan apapun, yang mungkin kamu remehkan sekarang bisa jadi merupakan sebuah roda penggerak dari jutaan bahkan sampai triliyunan roda penggerak dunia. Dan guru itu adalah salah satunya.
          Guru, sang penentu generasi bangsa yang akan datang. Kira-kira akan seperti apa generasi nanti dengan kualitas dan konsep guru yang seperti sekarang?

Komentar

Postingan Populer